Tik Tok Tik Tok Tik Tok

Waktu rasanya melaju terlalu cepat. Aku ngos-ngosan dan jantung mulai berdetak beda-beda tempo. Wah, sudah ada di Jumat aja, udah ada di tanggal dua puluh satu Desember aja. Dan aku masih juga berkutat sama laptop dan klien-klien yang berbeda cara perlakuannya.

Beberapa project VO yang bentukan pekerjaannya gak bisa aku selesaikan dalam sehari, gak aku ambil. Karena terlalu berisiko. Pertama, waktu bekerja di masa pingitan ini sempit. Karena akunya masih banyak hal yang menjadi prioritas fokusku. Kedua, selama di Jakarta, aku gak mungkin bisa kondusif recording. Karena huru-hara selalu terjadi dan kalaupun ada suasana senyap adalah pada saat semua penghuni apartemen ini terlelap. Gak mungkin jugalah karena akupun kudu tidur (no begadang). Demi mengenyahkan si mata panda dari wajah.

Sedih sih, karena gak bisa mengerjakan hal yang aku suka (dan apalagi bisa menghasilkan cuan ini). Tapi ya gimana, once in a lifetime, aku kudu melalui momen ini dengan sebaik-baik yang aku bisa lakukan.

Dan aku mau cerita deh, barusan banget ada klien approching aku. Dan tumbenan banget klien dari negara sendiri. Aku sih pasti udah ancang-ancang kuda-kuda kalo bakalan bernegosiasi alot dan ngehey dengannya.

Dia menyapa langsung dengan bahasa Indonesia dan dengan gaya informal (more like sok asyik gitu). Lalu, dia jembrengin requirement-nya. Terus ya aku langsung bikin offering, dong. Dan, momen yang aku duga ternyata kejadian. Klien ini masuk ke kategori klien sadis yang minta nego harga. Persis kayak yang klien nehi-nehi yang sempat dua hari lalu approched aku juga.

Mau aku kasih rate yang dia maupun, tapi menurut perhitunganku itu gak akan kekejar juga. Daripada cuma dapet capek dan bete, mending aku respons dengan penjelasan yang singkat, padat, jelas. Yah simpelnya mah, take it or leave it gitu. Baru negosiasi aja, aku udah ngerasa lelah sama klien lokal ini. Lelahnya karena batin hambaa kzl bangeeet sama cara dese nego. Gak enak banget cara negonyaaa.

Jadi, kira-kira dia negonya dengan cara gini ngomongnya, “Aku udah biasa order di sini, dan biasanya cuma $xxxxxx dengan kualitas bagus. Makanya aku kaget sama harga, Kakak.” (Dih, manggil Kakak. Berasa gue lagi lewat depan Giordano kali ah.)

Nah, karena mulut dan jemariku ini susah diajak bermanis-manja dan berbasa-basi busuk, maka sekuat tenaga aku mengeufimismekan respons aku kedianya dan ditambah secuil rasa sopan santun. Kira-kira begini jawabanku, “Hehe. Kalo begitu pakai VO talent yang biasa kamu pake aja. Aku di sini bekerja sebagai profesional juga, dan tertib sama rate yang aku pakai.”

Pakai “hehe” di awal karena menanggapi kekonyolan ucapan cara bernegonya dia yang bikin aku sebenernya pengin jambak dan ngoms, “Beach, elo gak liat ada badge level seller di profil gua?!” atau “Ya kagak usah pake jasa guaa kalo situ gak mampu bayaar. Dikira gua kerja sosial apaa. Bos situ aja yang pedit dan mizqueen. Bye nek.”

Tapi itu cuma dalam imajinasiku doang, sih. Tetep aja aku kudu menjunjung tinggi nilai-nilai baik dari nenek moyang yakaaan. Apalagi aku selalu teringat pesan almarhum Bapak (alias kakek aku) bahwa sebaik-baiknya diri adalah tetap menjadi pribadi yang baik meski ada orang-orang menyebalkan yang kita hadapi.

Btw, yang aku bingungkan, kok dese kagak menghargai banget ya sama badge level seller yang (susah payah) aku capai. Bahkan, sebenarnya rate aku bisa naik lagi karena udah punya verified badge itu. Tapi kalo dipikir-pikir, ya emang ada sih tipe orang-orang yang bersikap meremehkan pekerjaan orang lain. Malahan kayaknya banyak. Jadi keinget cerita temen-temen desainer grafis/web yang dinego sadis dan pake cara yang kira-kira sama gak enaknya juga. Sementara giliran ada klien luar, pasti pekerjaannya diapresiasi bahkan tanpa nego harga. Karena mostly klien luar mah emang bisa lebih menghargai sih ketimbang lokal.

Well, yang barusan aku ceritakan sih bukan mau menggeneralisasikan klien lokal ya. Lagian yang aku ceritakan juga berdasarkan kejadian yang aku alami sendiri. Terlepas ada klien lokal yang pedit merkidit, ada juga kok klien lokal yang asyik dan seru kerjasamanya. Kayak misalnya klien lokal yang order VO buat digital commercials gitu, negosiasi sehari, delivery sehari, 14 days clearance, dan mereka kasih star rate dan komentar terbaik. Bahkan, ada klien yang order pertamanya lagi proses editing, dia udah order project baru lagi. Mantul kaan!

Namanya juga hidup, senang-sedihnya dihadapi aja. Hal-hal baiknya harus kita syukuri sepanjang waktu. Termasuk nikmat kesehatan. Betul, Pemirsa?

 

Advertisements

Tiga Lima Delapan

Untaian ayat Quran terdengar merdu dari toa masjid kecil yang terletak dua blok dari sini. Memecah keheningan malam yang segera berganti subuh.

Lamunanku seketika buyar dan tersisa perasaan sendu. Kelebat ingatan saat masih SMA datang, sesekali saat kuliah. Aduh, apa ini?

Aku seperti berada di Jumat lain di masa lalu. Perasaan apa ini? Waktu seperti berhenti dan mengunciku pada masa-masa itu. Kedua mataku seolah dipaksa melihat deretan gambar bergerak secara acak. Hatiku menjadi sulit kukendalikan. Ada perasaan teriris karena merindukan waktu.

Bandung, menuju subuh di Jumat ketiga Oktober tahun ini.

Mengenang TORAMARIMELOMPAT

Tadi secara acak aku melakukan pencarian di Google. Kata kuncinya adalah toramarimelompat—nama blog lamaku di situs Multiply (situs yang udah mati karena, ah panjang ceritanya tar malah jadi makalah. Huehehe.). Terus aku nemu blog orang yang ternyata dia sempat “membedah” cerpen 100 kata yang aku tulis di blog toramarimelompat. Hihihi. Ada sedikit perasaan senang yang membuncah di dada. Karena paling gak, aku masih lihat ada serpihan dari blog aku itu.

Don't stop just

Btw, ada sedikit penyesalan sih kenapa aku gak sempat back up semua postingan di blog itu. Karena di blog itu, aku masih rajin menulis dan bahkan punya banyak teman sesama bloggers. Multiply menjadi “pelarian” menyenangkan ketika dulu masih sibuk sekolah dan kerja di radio.

Rindu sama sesuatu yang terkadang kalau ditanya lebih dalam tentang kenapa aku begitu merinduinya itu emang aneh. Hm, janggal gitu. Tapi aku gak bisa bilang perasaan itu cuma perasaan mengada-ada juga sih. Karena, aku sadar aku bertumbuh dengan tulisan-tulisanku saat itu.

Ada pro dan kontranya sih menulis jurnal harian secara digital. Enaknya karena bisa nulis di mana pun dan kapanpun tanpa harus repot bawa buku harian ke mana-mana. Ya, asal ada koneksi internet aja sih. HEHE. Gak enaknya ya, kalo pas situsnya bangkrut dan menghilang kayak Multiply.

Hm, pertanyaannya (buat diri sendiri) adalah apakah aku harus kembali nulis manual di buku harian lagi yah? Seru sih, karena bisa sambil melihat kondisi mood saat menulis. Ha, dari mana? Ya dari tulisan tangan. Aku bisa melihat lebih dalam ke kondisi dan situasi atau apa yang sedang kutulis melalui tulisan tanganku. Cuma gak enaknya tuh kalo pas ada hal yang kita gak pengen orang lain baca, buku harian tuh terlalu riskan. Karena kalo di blog, kan, blog-nya bisa dikasih password.

Yah, begitulah. Kalo kamu, punya kenangan sama sesuatu apa?

Q&A Ketika Kecewa Menerjang

Karena belum juga sempat jawab pertanyaan lewat video, tampaknya untuk sesi Q&A kali ini akan dicoba jawab lewat blog. Hehe. Yah biar gak sepi-sepi amat kayak jomblo baru putus.

OK, kali ini pertanyaan yang terpilih dari Instagram. (Yaiya sih, netizen paling aktif di Instagram yekaaan.)

Baiklah. Mari langsung kita capcus. Hm, kalo aku lagi mengalami kondisi di atas, biasanya aku mencoba mengambil tempat dan waktu untuk sendirian atau bahasa gampangnya mah me-time.

Di balik senyum tawa dan kejailanku, pasti ada lah saat-saat aku kesel, bete, marah, dan sebagainya. Mau itu dikarenakan sesuatu atau seseorang. Kalo cara-cara yang udah kamu lakukan itu bagimu belum cukup, cobain tidur deh.

Gak bisa tidur karena gelisah? Ya udah, makan yang banyak. Makan makanan yang kamu paling suka. Pokoknya comfort food kamu deh. Terus sebeluk tidur, cobain minum susu cokelat anget. (Tapi kalo aku sih gak ngefek minum susu anget sebelum tidur. HAHA.)

Tapi yah, menurutku, sebenernya sih semua itu balik lagi ke kamunya. Bisa jadi, semua cara yang kamu udah lakukan atau cara yang barusan kubagiku pun jadi gak ngefek ya karena pada dasarnya—deep down inside—kamunya sendiri yang menolak untuk ‘lepas’.

Cobain deh, kamu pikir ulang. Tanyakan sama diri sendiri tentang apa untungnya memikirkan hal atau orang yang udah bikin kita bete? Terus, tanyakan juga sama diri sendiri, siapa yang pantas pegang kendali kebahagiaan kita? Tentu bukan siapa-siapa, kan, selain diri kita sendiri.

Nah, ya udah. Sebenernya mah jawabannya gampang. Kalo ada hal yang bikin kesal, bete, marah, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menenangkan diri dan cari solusi. Setelah itu, pakai prinsip BODOAMAT deh. Jangan mau kamu bawa-bawa di pikiran, apalagi kalo hal tersebut gak ada untungnya buat berlama-lama dipikirkan.

Oh ya, satu lagi, sebegimanapun kita kesal atau sedih, pikir beribu kali untuk kamu share di sosmed yaa. Kecuali kamu udah siap dengan risiko atau dampaknya, ya bebas sih kalo kamu mau share juga. Hehehe. Cuman mau ingetin sama istilah haters gonna hate. Jangan sampai, ketika kamu share kesedihan/marah/bete/dsb yang kamu alami dan bersifat pribadi, terus haters kamu baca. Ya haters kamu bakal lompat girang lah ngelihat kamu susah.

Yah, pesan ini berlaku untuk aku, lalu semua dedek yang masih bersekolah/kuliah atau mamah mudah/tua yang sudah berumah tangga.

Hidup jangan julid, nanti tambah sulit.— Mita M. Supardi

Okey, segitu dulu update blog aku. Kalo tulisannya mengundang kamu buat komen atau kasih kritik usulan, silakan loh isi kolom komentar di bawah. Atau screen capture halaman ini, terus kamu tag aku deh di IG story!

Makasih buat yang udah komen dan kasih tau aku kalo kamu udah mampir.

Stay positive and be happy, always!

Already Home

“Sore ini juga operasi?” tanyaku memastikan kembali pernyataan dokter specialis urologi.

Dokter mengangguk dan tersenyum kepadaku, “Sebaiknya secepatnya….”

Aku tahu aku mendadak cemas dan ada ketakutan merambatiku. Melihat ekspresiku, dokter melanjutkan kalimatnya.

“Kalo kamu gak segera dioperasi, nanti akan sakit terus lho,” ucapnya dengan raut mencoba meyakinkanku.

Ya Allah, iya iya aku tahu. Aku gak mau ngerasain sakit yang kambuhnya non-stop berjam-jam. Belum lagi, segala macam pain-killer yang bagiku gak mempan apa-apa dan bikin aku kehilangan waktu tidur.

“Iya, Dok. Saya siap.” Aku mengucapkannya dengan pura-pura tegar.

Dokter tersenyum dengan pandangan menenangkan ke arahku. “OK, Suster. Dimulai aja persiapannya ya,” ucap dokter kepada suster di sampingnya. Suster mengangguk dan seperti mencatat sesuatu di papan dokumen yang ia bawa.

Persiapan pun dimulai dengan aku diambil darah lagi dari tangan kiri, katanya untuk cek fungsi hati. Lanjut rongent paru-paru. Sekira lima jam sebelum operasi, aku diberikan obat penenang supaya bisa tidur dan tensi ada di angka yang menunjukkan bahwa aku dalam keadaan tenang. Bhay deh, gak bisa banyak pegang ponsel.

Kemudian sekira pukul tiga sore, aku dibangunkan untuk menuju ruang operasi. Meski ini adalah kali ketiga aku masuk ruang operasi, rasa takutnya tetap sama. Momen perpindahan dari meja tidur ke meja operasi juga masih sama menakutkannya.

Kali pertama operasi tahun 2015, musik latar dalam ruang operasi musik Evergreen gitu. Jadul-jadul romantis menenangkan, tapi tetep aja jantung aku mah gak keruan gugupnya. Lalu, kali kedua operasi tahun 2016, musik latarnya adalah One Direction. Dan operasi terakhir lalu, musik latarnya adalah Ellie Goulding – Love Like You Do.

Gils! Ruangan operasi yang super-dingin dengan segala peralatan medis yang asing bagiku, serta lampu operasi yang bentuknya tampak seperti lampu milik UFO bikin aku gak bisa merasakan enjoy-nya musik EDM.

Aku mengatur napasku. Jangan gugup, Mita. Jangan gugup, Mita. Begitulah kira-kira aku mensugesti diri tepat sebelum dibius. Sampai TRING! Aku tak sadarkan diri.

Bangun-bangun, aku ada di ruang pemulihan dengan meracau yang aku sendiri gak ingat. Aku hanya diceritakan oleh Mamah, Tante Yani, Sarah (sepupuku), dan Culut. Kata mereka aku menyebut satu per satu makanan yang pengin aku makan. Dan bercerita betapa aku suka makanan-makanan tersebut. Belum lagi aku meracau hal lainnya. Tampaknya, efek bius lalu, malah bikin aku bangun-bangun cuma ingat makanan. HAHAHA.

Sampailah di masa penyembuhan. Aku gak bisa bilang mudah, tapi aku tau aku harus yakin aku bisa sembuh total. Sampai akhirnya, sekarang aku sudah kembali ke rumah. Alhamdulillah.

Terima kasihku kepada Allah, karena masih sayang sama aku dan diberikan nikmat rasanya sakit. Betapa aku tahu pentingnya bersyukur bisa sehat. Untuk Mamah-Papah yang kali pertama menemani di malam paling mencekam dalam hidupku—meraung semalaman macam orang kesurupan tanpa henti. Ya Allah; aku tahu aku gak bisa balas kebaikan hati mereka. Lalu, ada Culut dan Kuclut. Ada Tante Yani, Om Ian, Deopal, Decala yang perhatian dan sering jengukin aku. Masya Allah.

Terima kasihku sama Dokter Ruddy spc. penyakit dalam yang menanganiku dari hari pertama dan Dokter Tjahjo spc. urologi yang sudah mengoperasiku dan memberikan kekuatan mental saat akan operasi. Terima kasih juga kepada para suster RS. Advent Bandung. Kalian terbaik! Apalagi sama Suster Fanny dan dua suster jaga malam lain—yang aku lupa namanya. Malam pertama dengan rasa sakit hebat itu, aku tahu kalian sangatlah direpotkan olehku. Salam juga untuk dokter jaga malam yang cantik, yang rela bolak-balik ke kamarku memastikan nyeriku mereda.

Hiks. Aku masih terharu dengan kebaikan hati mereka. Well, mungkin ini terdengar lebay bagi kalian, tapi aku tulus mengatakan terima kasihku ke mereka. Di saat napas tersengal dan rasanya hampir mati, mereka lah yang bersabar merawatku di malam mencekam itu.

Makasih juga untuk Suster Indah, yang sama sabarnya saat-saat menjelang aku operasi. Apalagi persiapan CT-urologi yang ternyata gak mudah buat aku minum banyak demi bikin penuh kantong kemih supaya memudahkan pemeriksaan yang menggunakan alat radiasi tinggi tersebut. Fiuh~

Kemudian ada keluarga yang tak terikat darah, tapi hati mereka baiiik sekali. Mellya—adik bawel kesayangan yang rajin menanyakan kondisiku dari texting, call, bahkan video call. Obrolan pun kadang udah kayak di kantor konsultan; isinya konsultasi kisah kehidupan percintaan, healthy life, dan masa depan. Terus ada Babangs Christian Simamora yang jadi penghalau bosan karena bisa ngobrolin hal-hal seru seputar dunia urban dan kisah absurd lainnya. Akin and Seohyun; I LOVE YOU BOTH! Bebeb Aleszt di Bali—yang selalu jadi partner membungkus kesedihan dengan harapan dan tawa. Dokter Aris—teman/kakak yang aku kenal sekitar tahun 2011 zaman Twitter berjaya, makasiiiih udah sering memberikan proyeksi pengetahuan tentang dunia medis. Ada juga Alexa, Chalista, Saskia, Zoe yang paliiiiiing sering marahin aku untuk jaga kesehatan. Bahkan, waktu keluar dari RS pertama, Alexa telepon aku malam-malam cuma bawelin aku untuk memastikan aku harus tidur cepat, banyak minum air putih, dll. HAHAHA. Terus ada Jia yang sempat datang di RS putaran pertama. Lalu, ada gengs Pak Spiderman, Nidya, Omcem, Poci, dan Iken yang sempat datang di RS putaran kedua. Makasih juga support dan doa teman lainnya melalui social media, bahkan yang aku gak kenal secara langsung pun ikut mendoakanku. Terima kasih banyak. Biar Allah SWT yang balas kebaikan kalian semua. Aamiin.

• Selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian.

• Akan tampak seleksi alam, untuk membedakan orang-orang berhati tulus dan modus.

• Bahwa kebaikan kecil yang kita berikan ke orang lain, bisa jadi hal besar yang mereka rasakan. Itulah yang aku rasakan sendiri. Sekecil kebaikan yang telah orang-orang berikan ke aku, mungkin mereka gak sadar kalau itu berarti besar bagi aku.

• Semoga orang-orang baik berhati tulus, Allah segerakan mendapat rezeki berlipat-ganda. Aamiin.

Hari Spesial di RS (Part. 2)

15 Juni 2018

Nyeri hebat terjadi lagi. Aku kembali dibawa ke UGD Hermina. Setelah beberapa jam, orangtuaku minta direkomendasikan untuk pindah RS. I don’t need to explain why I have to move. Intinya adalah soal pelayanan.

Pindahlah aku ke RS. Advent di Cihampelas, Bandung. Masuk UGD dan nyeri makin menggila. Saat itu aku kembali meraung kesakitan. Kemudian mereda sebentar karena dokter kasih aku pain-killer.

Aku dibawa ke ruang perawatan. Kemudian malam mencekam pun datang. Sejak sekira pukul 10 malam, perut sisi kiri bawah seperti ditusuk-tusuk tanpa henti. Biar aku ulangi, TANPA HENTI.

Tiga suster dan satu dokter jaga, sudah bolak-balik ke kamarku. Aku udah dikasih obat pengurang nyeri berbagai jenis dengan rentang waktu yang pendek. Dan gengs, semuanya cuma mempan less than an hour. Selebihnya aku udah macem orang kesurupan, kata mereka.

Aku menangis, berteriak-teriak, dan bahkan kata Mamah-Papah aku udah meracau gak jelas bahkan sampai teriak-teriak memanggil alm. Kakek. Aku yang dengar cerita ulang mereka aja sampai gak percaya.

Menunggu pagi tuh rasanya tersiksa. Dan puncaknya adalah pukul 3 -5 pagi adalah momen paling mengerikan bagiku dan Mamah-Papah. Kata Mamah juga dokter jaga dan para suster bingung dengan tidak mempannya pain-killer yang udah masuk ke tubuhku.

Aku cuma ingat, samar-samar suara Papah-Mamah mengaji Al-Quran.

Sampai pagi datang, matahari mulai tampak dari jendela samping ranjangku. Entahlah, rasa sakit mereda, dan aku sempat tertidur dua jam sampai dokter spesialis penyakit dalam datang.

16 Juni 2018

Setelah dokter visit, dia memutuskan untuk aku kembali cek USG besok pagi (17/6). Karena leukosit-ku masih tinggi, yang artinya ada infeksi dalam tubuh.

Ya sudah, aku pasrah. Semoga saja hasil USG baik. Sejak tengah malam sampai pagi, aku harus puasa supaya hasil pemeriksaan USG bisa maksimal.

17 Juni 2018

Aku melalui malam yang tenang. Aku bisa tidur tanpa merasakan rasa sakit. Okey, udah 24 jam berhasil tanpa rasa sakit. Pagi pukul 8, dokter specialis penyakit dalam udah visit aku. Dan katanya kalo hasil USG baik aku boleh pulang. Percik kebahagiaan muncul.

Akupun periksa USG sekira pukul 9 pagi. Dokter USG pun memeriksa sambil menjelaskan. Dan infeksi yang membuat leukosit tinggi pun ketahuan.

Sore harinya, datang dokter ahli ginjal visit aku. Akhirnya aku benar-benar tahu aku sakit apa. Ada butiran yang familier disebut batu ginjal yang berukuran sekira 4mm di ginjal dan tampaknya masih ada juga di ureter atau saluran dari ginjal ke kandung kemih.

Fixed. Aku gak bisa pulang. Dan harus puasa untuk bersiap pengecekan lebih lanjut, yaitu CT-Scan. Refleks pas dokter ahli ginjal menjelaskan dengan sangat ramah dan jelas, aku nangis.

OK, sabar ya Michan. Berobatnya harus sampai tuntas. Biar gak sakit-sakit lagi.

Mungkin kalian bosen yah dengar kabar aku masuk RS. Tapi, semoga kalian gak keberatan mengirimkan doa terbaik untukku.

Buat gengs Instagram yang udah bawel nanya aku gimana kabarnya karena ngilang dari peredaran. Sungguh, karena aku lagi gak kuasa berbagi kesedihan ini. Jujur, aku manusia biasa yang sempat putus asa karena gak sembuh-sembuh.

Terima kasih, Gengs. Karena ternyata masih banyak yang baik dan peduli sama aku. Semoga Allah balas kebaikan kalian semua ya.

Al-fatihah.

Hari Spesial di RS (Part. 1)

11 Juni 2018

Lepas subuh, perut kiri bagian bawah terasa sakit. Awalnya aku cuma ngomong dalam hati, “Ah cuma sakit dikit, lanjutin tidur deh. Ngantuk!”

Tapi ternyata nyeri semakin menjadi-jadi. Aku pun sampai aku turun dari kasur dan memutuskan untuk mengambil segelas air hangat. Belum sampai ke dispenser, aku merintih dan tubuh melemas ke lantai. Sambil pegangan ke kursi di ruang makan, aku merintih.

Dan Mamah juga Kuclut langsung membawaku ke UGD rumah sakit terdekat dengan rumah; RSU Hermina, Pasteur-Bandung.

Sampai di UGD, sakit makin menggila. Aku gak tahan sampai (terpaksa) menjerit-jerit kesakitan. Mustahil menahan rasa sakit yang menyerang. Segala posisi merangkak, tidur melingkar, kayang, telungkup pun gak bikin nyerinya mereda.

Setelah bergulat dengan rasa sakit selama delapan jam di UGD, sempat pemeriksaan USG, darah, urine juga, aku pun harus di rawat inap untuk observasi lebih lanjut.

JRENG! Malam itu juga aku menginap di rumah sakit.

12 Juni 2018

Kesedihan merambati hati karena ternyata aku melalui hari spesial dalam keadaan jarum infus terpasang di tangan kanan.

Ah, udahlah gak usah sedih-sedih. Kan lagi sakit juga. Aku tidur lebih awal aja. Jadi, sebelum pukul tengah malam, aku memutuskan untuk terlelap. Tak lama, lewat tengah malam. Masuk video call dari Mellya. Ada greeting birthday ternyata. Dan diikuti ucapan ulang tahun dari para pemain Kun Anta lainnya.

Hwaaah! Manalah aku siap dengan momen mengharukan. Sukses dong aku nangis bombay. Lalu, diikuti dengan banjir ucapan dan doa dari teman-teman di media sosial. Barakallah.

13 Juni 2018

Belum ada kepastian boleh pulang. Karena harus menghabiskan anti-biotik infusan sampai keesokanharinya.

14 Juni 2018

Setelah berdialog meminta pendapat dokter, akhirnya aku dapat izin pulang. Alhamdulillah, kataku. Jadi bisa berlebaran di rumah bersama keluarga. Sore di hari Kamis pun aku kembali ke rumah.

15 Juni 2018

Lebaran tiba! Hari spesial inipun kusambut suka cita. Kembali ke rumah dan bisa menikmati lebaran adalah kenikmatan yang aku syukuri.

Tapi ternyata, aku benar-benar tidak diizinkan untuk merasakan berlebaran seutuhnya. Karena…

Bersambung ke Part 2